Transformasi Kenikmatan Menonton Film Mulai Dari Format Media Fisik Hingga  Digital/Streaming

Sep 26, 2025 / 3:44:39 PM
bdcf675152a2a805e848b30c97b76b5a

Comments Off on Transformasi Kenikmatan Menonton Film Mulai Dari Format Media Fisik Hingga  Digital/Streaming

Kenikamatan menonton film dari format VHS, VCD, DVD hingga Bluray /Foto: Istimewa
Kenikamatan menonton film dari format VHS, VCD, DVD hingga Bluray /Foto: Istimewa

Wartakansaja – Di era sekarang ini yang serba praktis dan digital, Mungkin sekarang kita sudah lupa bagaimana rasanya memegang sebuah perangkat berupa kaset VHS, VCD ataupun DVD.

Kembali  sedikit mengenang masa lalu, saat budaya menonton film di rumah tidak hanya sekadar menekan tombol “play”, melainkan sebuah pengalaman yang lebih kaya dan mendalam dimana kita menikmati sebuah film dalam format di masa kejayaan media fisik, seperti kaset VCR, VHS hingga piringan cakram bluray.

Sebuah film yang ditayangkan di bioskop dalam jendela tayang 2 minggu hingga 1 bulan (kalau filmnya laku), pada umumnya studio dan para aktor serta sutradara, hanya mempunyai kesempatan mendapatkan penghasilan satu kali, saat itu juga. Apabila filmnya gagal di box office, sudah bisa dikatakan film itu tamat.

Dengan berkembangnya teknologi masuklah pemutar VCR dan VHS yang secara tidak langsung memberi kesempatan kedua bagi pihak studio (sayangnya tidak bagi pengelola bioskop).

Untuk pertama kalinya, studio film bisa menjual karya mereka langsung kepada penonton untuk dimiliki secara pribadi. Ini bukan hanya soal menonton ulang film kesayangan, tapi juga menciptakan pasar sekunder yang sangat menguntungkan selama hampir 40 tahun. 

Sebuah “demokratisasi” yang memungkinkan siapa pun punya perpustakaan film pribadi di rumah. Memang kualitasnya tidak sebaik ketika film itu diputar di bioskop. 

Baca Juga : Spotify Resmi Bebaskan Pengguna Non Premium Mainkan Lagu PIlihan Tanpa Retriksi

Pada era ini istilah cult classic mulailah muncul, seperti pada film 

Blade Runner yang mengalami kerugian di bioskop tetapi mendapatkan nyawa keduanya dari penjualan VHS. 

Dan film tersebut menjadi favorit banyak kalangan penonton, termasuk yang ingin mengerti lebih dalam cerita filmnya sendiri, yang ketika ditayangkan di bioskop, susah dicerna oleh beberapa kalangan penonton. 

Memerlukan kegiatan menonton berulang untuk mendapatkan gambaran utuh ceritanya.

Kemudian, muncullah era keemasan DVD. Kedatangannya diibaratkan seperti sebuah revolusi. Kualitas gambar dan suara yang jauh lebih baik membuat para penikmat film berbondong-bondong beralih. 

Hingga puncaknya di era Bluray dimana teknologi sudah begitu mumpuni dapat menghasilkan kualitas gambar HD dan audio yang semakin mendekati kualitas bioskop (ditambah faktor daya tampung data yang memungkinkan semuanya).

Studio-studio pun berlomba-lomba merilis ulang katalog film mereka, menciptakan sebuah “demam” yang luar biasa. Dan ini merupakan tambang emas buat studio. 

Para aktor dan sutradara juga mendapatkan aliran penghasilan tambahan dari munculnya fenomena ini. Singkatnya pendapatan berulang di jangka panjang.

Untuk menarik pembeli, mereka tak segan menyematkan bonus-bonus mewah. Ingatkah kita dengan segudang fitur tambahan? 

Ada dokumentasi di balik layar, adegan yang dihapus (deleted scenes), atau bahkan komentar dari sutradara. Semua itu bukan hanya sekadar bonus, tapi jendela yang membuka kita ke proses kreatif di balik sebuah film. 

Era itu begitu kaya, mengikat penonton dengan film yang mereka sukai, dan menciptakan komunitas yang solid. Data menunjukkan, para penggemar film di era ini adalah yang paling solid.

Tetapi, di tengah kemegahan itu, sebuah “badai” lain datang. Netflix, pelopor layanan streaming, datang dan mengubah segalanya. Dengan kemudahan akses dan biaya yang relatif murah, media fisik perlahan tapi pasti tergerus. 

Hadirnya Netflix yang asal mulanya hanya perusahaan rental DVD, mengancam keberadaan para studio besar.

Kita dimanjakan dengan ribuan film yang bisa ditonton kapan saja dan di mana saja. Tapi, setiap koin tentu mempunyai dua sisi.

Di balik segala kemudahannya, streaming membawa sebuah masalah besar: ketidakpermanenan konten. Pada era ini perlahan istilah film bergeser dari sebuah karya menjadi konten.

Sebuah film yang hari ini ada di satu platform, esok hari bisa pindah ke platform lain, atau bahkan menghilang sepenuhnya karena masalah hak cipta atau kebijakan studio. 

Bahkan ketika kita “membeli” film secara digital, sebenarnya kita hanya membeli lisensi, bukan kepemilikan. Film itu bisa ditarik kapan saja, membuat koleksi digital kita menjadi tak pasti.

Baca juga : Sebelum Membeli Televisi Pahami Dulu Perbedaan Smart TV Dan Android TV

Ironisnya, ketidakpastian ini justru memicu kebangkitan kecil-kecilan dari media fisik. Banyak pihak pecinta film dan kolektor mendukung gerakan ini.

Muncul perusahaan-perusahaan butik (Criterion, Vinegar Syndrome, Arrow Videos, Drafthouse) yang merilis edisi khusus dari film-film pilihan, lengkap dengan fitur tambahan yang melimpah, mirip seperti era DVD. 

Meski demikian, upaya ini terasa seperti perjuangan yang mulia, namun kemungkinan besar tidak akan mengembalikan pasar media fisik seperti dulu. Hanya membuat percikan saja dan mempertahankan sejarah.

Peta industri film sudah berubah di masa kini. 

Pada akhirnya, budaya “scroll tanpa henti” yang dibawa oleh streaming membuat film kehilangan kekuatan untuk bertahan lama dalam ingatan kita. 

Film-film baru datang dan pergi, tanpa sempat dicerna dan dihargai. Kita disuguhi terlalu banyak pilihan hingga sulit untuk benar-benar menikmati satu per satu. Jarang ditemukan film film yang membekas atau dikatakan sampai mempunyai cultural impact.

Meskipun streaming memberikan kenyamanan tak tertandingi, kelebihan yang ditawarkannya justru membuat kita kehilangan apresiasi terhadap film itu sendiri.

Kegiatan mendatangi toko offline, menyelusuri rak, memilah milah film, serunya berdiskusi dengan sesama penggemar film ketika memilih film, kemudian membeli film yang disukai, kini menjadi peninggalan relik masa lalu. (Harris)

Tags

Posted in ,

◼️ Berita Terkait

◼️ Rekomendasi Lainnya

Euforia Tahun Baruan di Batavia PIK

JAKARTA – Momen pergantian tahun atau malam tahun baru biasanya…

Pemkot Depok Luncurkan Rintisan Sekolah Swasta Gratis

  DEPOK, Wartakansaja – Pemerintah Kota resmi meluncurkan Rintisan Sekolah…

Pegawai Swasta Bergaji Maksimal 6,2 Juta Bisa Naik MRT, LRT Dan Transjakarta Secara Gratis Selama 6 Bulan

JAKARTA, wartakansaja – Kabar gembira bagi pegawai swasta dengan gaji…

Kerjasama Waqaf An-Nur dan Asosiasi Nazhir Indonesia (ANI) dalam Mengembangkan Program Wakaf Produktif

wartakansaja – Untuk memperkuat kolaborasi dan kemitraan internasional dalam mengembangkan…

Pekan Sastra Betawi 2025 Menghadirkan Pertunjukan Teatrikal Lenong Preman

JAKARTA, wartakansaja – Dewan kesenian Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan…

Marc Marquez Berpisah dengan Red Bull Setelah 17 Tahun Bersama

  Marc Marquez salah satu pembalap motoGP yang memiliki banyak…

Kemenkop Membuka lowongan Pekerjaan Untuk S1 Semua Jurusan, Usia Maksimal 60 tahun

wartakansaja – Kementerian Koperasi (Kemenkop) Republik Indonesia memberi kesempatan bagi…

Apa itu Proses Revaluasi Barang Milik Negara (BMN)

  JAKARTA. Saat ini Aset Pemerintah Pusat bernilai Rp. 7.272…

Demo Ojol 1

Besok! 1000 Driver Ojol Demo

komunitas ojeg online dan kurir se-jabodetabek Kamis (29/08/2024) akan melakukan…

Penjelasan Korlantas Polri Tentang STNK mati selama 2 tahun Kendaraan Bakal Disita

  Wartakansaja.com – Akhir akhir ini di media sosial  beredar…

bahari1
Laser
Rumah Cantik
WS Hotel