Comments Off on Sandwich : Asal-Usul, Sejarah, Aristokrasi Dan Sebuah Warisan Kulier
wartakansaja – Ketika mendengar kata ‘sandwich’, yang terbayang adalah makanan bule dengan dua lembar roti yang ditengahnya ada sesuatu yang lezat. Mulai dari ham dan keju, selai kacang dan jelly, hingga berbagai variasi yang lebih mewah.
Nama Sandwich, sebuah nama yang cukup lumrah buat orang bule ternyata menyimpan cerita sejarah yang menarik, melibatkan kaum aristokrat, dan bahkan sedikit unsur perjudian.
Kisah di balik penamaannya memberikan gambaran tentang bagaimana suatu konsep sederhana menjadi bagian universal dalam bahasa dan santapan sehari-hari.
Kata sandwich sebenarnya berasal dari nama seorang bangsawan Inggris abad ke-18, John Montagu, yang menyandang gelar the Fourth Earl of Sandwich yang mengacu pada nama sebuah kota pelabuhan sejarah di Inggris yakni di Kent, bernama sandwic yang berarti “tempat berpasir” atau “pelabuhan dagang di tepi pasir”.
John Montagu, yang lahir pada tahun 1718 dan menjadi Earl of Sandwich keempat pada tahun 1729, dikenal dalam berbagai peran, termasuk dalam dunia politik sebagai First Lord of the Admiralty. Namun, warisannya justru lebih erat terkait dengan kebiasaan berjudi dan kisah di balik penciptaan sandwich.
Baca juga :
Asal Usul Kata Pizza : Jejak Linguistik Yang Tak Terduga
Menurut legenda yang populer, Montagu ketika asyik bermain kartu mempunyai kebiasaan enggan meninggalkan meja untuk makan sehingga Ia meminta pelayannya menyiapkan potongan daging yang dijepit di antara dua iris roti.
Dengan demikian, ia bisa makan dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap memegang kartu tanpa mengotori kartu dengan minyak atau kuah.
Teman-teman sepermainannya kemudian menirunya dan memesan “the same as Sandwich”. Sejak saat itu, sebutan sandwich melekat pada makanan tersebut.
Akan tetapi keakuratan cerita ini masih diperdebatkan, namun narasi ini telah menjadi bagian dari warisan sejarah yang terus diceritakan.
John Montagu bukanlah orang pertama yang menempatkan makanan di antara roti. Berbagai budaya di dunia telah melakukan hal serupa selama berabad-abad. Pada Abad Pertengahan di Eropa, misalnya, orang menggunakan trenchers—irisan roti tebal dan agak keras—sebagai piring untuk meletakkan daging dan rebusan.
Sementara di Asia, berbagai bentuk serupa telah hadir, misalnya dalam bentuk bakpao atau roti berisi. Peran Earl of Sandwich bukanlah menciptakan konsepnya, melainkan memopulerkannya di Inggris dan memberinya nama yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia.
Di negara Amerika Serikat, sandwich menjadi sangat populer pada abad ke-19 dan ke-20. Imigran dari berbagai negara turut membawa serta variasi sandwich khas mereka, seperti Italian sub, pastrami on rye dari Yahudi, atau Cuban sandwich.
Setiap budaya mengadaptasi konsep sandwich dengan cita rasa khasnya, menjadikannya fenomena kuliner global.
Saat ini, terdapat variasi sandwich yang hampir tak terbatas: burger, wrap, club sandwich, grilled cheese, banh mi, gyro, dan banyak lagi.
Semuanya dapat ditelusuri kembali pada momen sang Earl yang membutuhkan kepraktisan atau mungkin karena keasyikan berjudi, tergantung versi mana yang lebih disukai.
Jadi, ketika menyebut “sandwich”, kita sebenarnya menyentuh lapisan sejarah yang mencakup sebuah kota dari Abad Pertengahan, gelar aristokrat, dan akhirnya sebuah hidangan.
Seiring waktu, kata “sandwich” juga masuk ke dalam bahasa dan budaya di luar konteks makanan.
Frasa seperti “terjepit di antara dua hal” atau “generasi sandwich” mencerminkan betapa konsep ini telah mengakar dalam cara berpikir masyarakat.
Restoran-restoran yang khusus menyajikan sandwich juga semakin menjamur, dan beberapa jenis sandwich seperti BLT, Philly cheesesteak, atau Reuben bahkan telah menjadi ikon kuliner sendiri.
Mengapa nama “sandwich” justru bertahan ketika makanan serupa telah ada sebelumnya? Jawabannya terletak pada kekuatan bahasa dan momentum sejarah.
Pada abad ke-18, literasi dan karya cetak mulai menyebar luas. Ketika kebiasaan sang Earl ditulis dan disebarluaskan, hidangan tersebut mendapatkan identitas yang jelas.
Orang-orang juga cenderung menyukai kisah di balik makanan, dan asal-usul yang unik terkait seorang bangsawan eksentrik menjadi cerita yang sempurna untuk disebarkan.
Baca juga : Kenapa Pecel Lele Tidak Ada Bumbu Pecelnya?
Sandwich lebih dari sekadar hidangan yang praktis ia adalah potongan sejarah yang terbungkus dalam roti. John Montagu mungkin tidak menciptakan konsepnya, tetapi gaya hidupnya memberinya nama yang bertahan hingga kini.
Dari meja judi di Inggris abad ke-18 hingga kotak makan siang dan restoran masa kini, sandwich telah menjadi salah satu makanan paling universal dan dicintai di dunia.
Setiap kali menikmati sandwich, kita turut serta dalam tradisi berusia ratusan tahun yang terhubung dengan seorang bangsawan pecandu judi, sebuah kota bernama Sandwich, dan sebuah kata yang telah bertahan dalam ujian waktu. (Harris)
JAKARTA, wartakansaja.com – Menyambut hari jadi Kota Jakarta yang ke-499,…
Wartakansaja – PT. Kawasaki Indonesia baru baru ini resmi merilis…
Wartakansaja.com – Untuk memudahkan pemilik kendaraan membayar pajak, sekarang…
Atlanta Georgia,Wartakansaja.com.Pertandingan Grup A Piala Dunia 2026 mempertemukan Ceko dan…
KABUPATEN BOGOR, Wartakansaja.com – Pemerintah Kabupaten Bogor bergerak cepat…
Wartakansaja.com -Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),…
KABUPATEN BOGOR. -Terkait ditemukannya tiga pasien suspek penyakit cacar monyet,…
Baru baru ini sutradara pemenang Oscar 2024 Christopher Nolan …
JAKARTA,Wartakansaja.com – Keamanan Merupakan sesuatu yang penting bagi individu…
Untuk yang ketiga kali Goethe institute menggelar festival tahunan…