Comments Off on Tim Mahasiswa Teknik Sipil ITB Raih Prestasi Internasional di NTU Bridge Design Competition 2026
BANDUNG, wartakansaja – Di ajang kompetisi internasional Bridge Design Competition (BDC) 2026 yang diselenggarakan oleh Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Tim mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) menorehkan prestasi di kancah internasional dengan meraih Juara 2. Kompetisi ini diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai negara, dengan hanya 50 tim terbaik yang melaju ke babak final.
NTU BDC 2026 mengangkat tema “Bridging the Gap: Urban Connectivity and Industrial Resilience” dan menantang peserta mengintegrasikan teori struktur ke dalam praktik melalui desain, simulasi, hingga konstruksi fisik jembatan. Penilaian dalam kompetisi ini tidak hanya berfokus pada kekuatan struktur, tetapi juga pada efisiensi biaya dan aspek keberlanjutan melalui pendekatan Cost-Efficiency-Green Value (CEGV). Pada babak final, peserta dihadapkan pada kondisi nyata dengan spesifikasi teknis yang baru diumumkan di hari pertama, serta pengujian langsung hingga struktur mengalami kegagalan (test to failure).
Tim mahasiswa ITB yang tergabung dalam Kuya Asoy Geboy, dan beranggotakan Rizqi Fathoni, Adyatma Bima Parikesit, dan Shaqil Aqila Hanugh, mengusung desain jembatan berbasis Warren truss yang dikenal memiliki rasio kekuatan terhadap berat (strength-to-weight ratio) yang optimal. Alih-alih menambah material secara masif, tim ini berfokus pada efisiensi penggunaan material melalui prediksi titik kegagalan serta optimasi teknik penyambungan. Pendekatan ini menghasilkan performa signifikan, dengan jembatan mampu menahan beban hingga 385 kN (sekitar 39 kg) dengan berat hanya 27,9 gram, menjadikannya salah satu struktur paling efisien dalam kompetisi.
Namun, capaian tersebut tidak diraih tanpa tantangan. Selama persiapan, tim menghadapi keterbatasan material latihan yang berbeda dengan kondisi kompetisi, serta waktu persiapan yang sempit. Bahkan, hasil uji coba awal menunjukkan performa tim berada di peringkat terbawah dalam aspek efisiensi dibanding tim ITB lainnya. Di babak final, tim juga harus beradaptasi cepat dengan penggunaan material baru seperti basswood dan metode perakitan menggunakan glue gun, serta tekanan waktu dalam penyusunan presentasi.
Meski demikian, ITB menunjukkan dominasi yang kuat dalam kompetisi ini. Dari lima tim yang dikirim, empat tim berhasil menembus 10 besar dan melaju ke tahap presentasi final. Selain Juara 2 yang diraih oleh tim Kuya Asoy Geboy, ITB juga membawa pulang Juara Harapan 1 melalui tim Kuyakin.
Bagi tim, pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga mengenai pentingnya proses evaluasi dan analisis dalam desain teknik. “Hal yang terpenting bukan sekadar hasil latihan, tetapi bagaimana kami menganalisis dan mengevaluasi setiap desain untuk menentukan solusi paling optimal saat kompetisi,” ujar Adyatma Bima Parikesit (Teknik Sipil, 2023).
Selain itu, tim juga mendorong mahasiswa lain mulai membangun pengalaman dari kompetisi tingkat nasional sebelum melangkah ke level internasional. Dengan latihan yang konsisten dan kerja keras yang terarah, peluang untuk bersaing di kancah global semakin terbuka. (*)
KABUPATEN BOGOR. Pemerintah kabupaten Bogor beberapa bulan yang lalu…
Mulai tahun depan tepatnya mulai 1 Januari 2025 sudah…
DEPOK, Wartakansaja.com. – Program Pembinaan Karakter dan Bela Negara…
Wartakansaja – Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) secara resmi…
KABUPATEN BOGOR, Politisi dari partai Gerindra sekaligus ketua DPRD Kabupaten…
KOTA BOGOR. Atas ikhtiar dan usahanya menjalankan pemerintahan dan memberikan…
KABUPATEN TANGERANG. Penjabat (Pj) Bupati Tangerang Andi Ony didampingi jajaran…
wartakansaja – Pagi itu, langit di Sumatera Utara tampak lebih…
Wartakansaja – Kepemilikan Nomor Induk Kepedudukan (NIK) yang tercantum di…